KehamilanPenyakit A-ZPersalinan

Depresi Pascapersalinan; Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

depresi pascapersalinan

Sudah membaca berita dimana seorang istri membacok suaminya karena diajak berhubungan badan pasca melahirkan? Usut punya usut, ternyata sang istri menderita Baby Blues; salah satu jenis depresi pascapersalinan yang masih belum terlalu banyak diketahui masyarakat.

Baca Juga:

Perlu kamu ketahui, depresi pascapersalinan itu bukan hal aneh karena setiap orang memiliki potensi itu. Coba kita kenal lebih jauh apa tentang depresi yang satu ini ya.

Jenis Depresi Pascapersalinan

depresi pascapersalinan

Gejala depresi pascapersalinan dapat terbagi menjadi tiga kategori:

1. Baby blues

Depresi pascapersalinan ini durasi waktunya sangat pendek. Karena tidak berlangsung lama, kebanyakan tidak memerlukan pengobatan medis di rumah sakit atau rumah rehabilitasi. Cukup perawatan di rumah saja.

2. Depresi postpartum

Kalau yang satu ini berlangsung lebih lama. Penderitanya juga akan merasa lebih lelah, dan membutuhkan perawatan secara medis.

3. Psikosis postpartumĀ 

Yang satu ini, depresi pascapersalinan yang dapat berlangsung sangat lama. Termasuk depresi yang sangat parah. Sehingga memerlukan perawatan kejiwaan secara agresif. Karena biasanya timbul halusinasi dan gejala psikosis pada penderita.

Gejala Depresi Pascapersalinan

depresi pascapersalinan

Bagi kamu ataupun pasangan seorang wanita yang baru melahirkan, jangan langsung merasa terbebani ya. Karena penderitanya juga pasti kebingungan harus bagaimana. Lebih baik kenali gejala depresi pascapersalinan di bawah ini, agar selanjutnya dapat melakukan penanganan yang tepat.

  • Kesulitan tidur atau kebalikannya, justru tidur lebih banyak dari biasanya.
  • Kekhawatiran yang berlebihan, khawatir tentang bayi yang baru dilahirkan, atau kurang berminat memahami perasaan untuk bayi.
  • Nafsu makan berubah.
  • Tidak percaya diri karena merasa tidak mampu mencintai bayi ataupun keluarganya.
  • Takut merugikan bayi atau takut ditinggal sendirian di rumah dengan bayimu sendiri.
  • Mudah terserang rasa cemas atau panik.
  • Ada kemarahan terhadap bayi, anggota keluarga lain, atau bahkan pasangannya.
  • Iritabilitas atau semakin peka terhadap rangsangan.
  • Sangat sulit berkonsentrasi dan mengingat sesuatu.
  • Merasa sedih atau bahkan menangis secara berlebihan.
  • Seringkali muncul perasaan ragu-ragu, mudah merasa bersalah, tidak berdaya, putus asa, serta gelisah.
  • Kelelahan yang ekstrim.
  • Kehilangan rasa minat terhadap hobi atau kegiatan biasa lainnya.
  • Mati rasa atau kesemutan di lengan atau kaki.
  • Ada perubahan di suasana hati secara berlebihan.
  • Sesak napas.
  • Pikiran berulang-ulang tentang kematian. Kalau parah, bisa jadi merasa ingin bunuh diri.
  • Ada pikiran obsesif-kompulsif serta perilaku-perilaku yang mengganggu.
  • Memiliki halusinasi dan delusi tentang dirimu atau bayimu yang berlebihan.

Sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter, jika kamu memiliki gejala atau tanda-tanda depresi pascapersalinan, yang sudah berjalan lebih dari dua minggu. Bisa jadi kondisinya sudah sangat darurat dan membutuhkan bantuan yang segera.

Terutama jika kamu mulai menyakiti diri sendiri bahkan ingin mengakhiri hidup. Depresi jenis apapun, perlu segera ditangani jika ini sudah terjadi.

Penyebab DepresiĀ Pascamelahirkan

depresi pascapersalinan

Sekali lagi, setiap orang berpotensi untuk mengalami depresi pascapersalinan. Karena tidak diketahui secara pasti alasan mengapa seorang wanita bisa mengalami depresi ini. Tetapi yang harus kamu tahu, setelah seorang wanita melahirkan terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron yang sangat tajam. Ditambah lagi wanita yang sudah melahirkan biasanya kurang tidur karena mengurus anak.

Dengan kata lain, depresi pascapersalinan bisa jadi salah satunya terjadi karena seorang wanita merasa sangat kelelahan. Ditambah beberapa diantaranya berkonflik dengan diri sendiri karena ada perubahan tanggung jawab dan identitas. Apalagi Jika kamu memiliki depresi lain di masa lalu, potensi mengalami depresi pascapersalinan menjadi lebih tinggi.

Jika kamu mengalaminya, jangan khawatir. Sebab depresi pascapersalinan bersifat sementara saja. Waktu berlangsungnya bisa hanya beberapa minggu atau sampai satu tahun setelah melahirkan. Tapi umumnya terjadi selama 3 bulan saja. Dan dapat diobati dengan cara-cara khusus, yang nanti diuraikan di bawah.

Cara Mengatasi Depresi Pascapersalinan

depresi pascapersalinan

Depresi pascapersalinan memang umumnya akan hilang dengan sendirinya dalam kurun waktu tiga bulan. Tetapi tidak ada salahnya berupaya mengatasinya. Apalagi jika gejala-gejala terjadi sudah kamu rasa sangat mengganggu kehidupanmu. Kalau didiamkan takutnya malah jadi semakin parah.

Ketika sudah pulih dari depresi pascapersalinan, jangan langsung melupakan ini. Karena ada kemungkinan kondisi ini akan muncul kembali sebelum periode menstruasi datang yaitu saat ada fluktuasi hormon. 

1. Obat depresi pascapersalinan

Cara tercepat untuk mengatasi depresi pascapersalinan adalah dengan mengonsumsi obat antidepresan. Obat ini akan bekerja dengan efektif jika dosisnya tepat. Karena itu, jangan mengonsumsi sesuka hati, tetapi diskusikan dulu dengan dokter yang lebih memahami cara pengobatan yang baik.

Saat berkonsultasi dengan dokter, jangan lupa sampaikan kalau-kalau kamu juga sedang menyusui. Karena beberapa obat antidepresan akan mengurangi produksi Air Susu Ibu (ASI). Bahkan ada juga obat lain seperti lithium yang dikabarkan dapat meracuni bayi. Walaupun hal itu masih menjadi bahan perdebatan di kalangan para ahli.

Kalau kamu benar-benar harus meminum obat antidepresan, dokter mungkin akan menyarankan kamu mengonsumsinya selama beberapa waktu saja. Misalnya selama enam bulan atau sampai satu tahun. Tujuannya untuk menghindari resiko kekambuhan. Kemudian secara bertahap, akan dikurangi dosisnya atau dilanjutkan sesuai kebutuhan.

Kalau sebelumnya kamu pernah mengalami depresi pascapersalinan, biasanya dokter akan menyarankan kamu meminum obat pencegahan, sesaat setelah bayi lahir ataupun selama kehamilan. Jangan khawatir karena kebanyakan antidepresan ini tidak mengganggu perkembangan janin. 

2. Psikoterapi

Tidak semua orang mau meminum obat. Untuk itu, ada pilihan lain yaitu menjalani psikoterapi. Saat seperti ini, seorang terapis dapat memberikan dukungan emosional. Dia akan membantumu memahami perasaan dan mengembangkan tujuan yang lebih realistis. Tentu secara perlahan, karena tujuannya membantu. 

3. DukunganĀ psikologis

Salah satu gejala depresi pascapersalinan adalah sering menyalahkan diri sendiri. Untuk menjauhi ini, cobalah untuk mengambil waktu untuk diri sendiri untuk memahami apa yang terjadi. Hirup udara segar setiap hari. Setelah itu berkomunikasi lah dengan teman, keluarga, dan orang lain di sekitarmu. Usahakan berada pada kelompok berenergi positif yang akan memberikanmu dukungan. 

4. Olahraga

Jika kamu sudah cukup kuat, gerakan tubuhmu lebih banyak dengan berolahraga. Hal ini juga dapat mendorong kesehatan mental membaik. Sejalan dengan kesehatan fisik yang membaik. Kamu dapat mengonsultasikan rencana olahragamu agar mendapatkan arahan yang tepat.

Itu dia persoalan penting dari depresi pascapersalinan yang perlu kamu ketahui. Tangani permasalahan ini dengan tepat. Jika bukan kamu yang mengalaminya, paling tidak kamu dapat memberikan dukungan agar tidak memperburuk keadaan. 

Related posts
Penyakit A-Z

Hepatitis B: Gejala dan Cara Mengatasinya

Penyakit A-Z

Pembunuh Mematikan Bernama Kanker Paru-Paru

Penyakit A-Z

Varises; Gejala, Faktor Resiko, dan Cara Pengobatannya

Ibu HamilKehamilan

Cara Mengatasi Sakit Pinggang Saat Hamil