Bayi & Anak-AnakKesehatan

Cara Pengobatan Penyakit Difteri Pada Anak

Difteri Pada Anak

Penyakit difteri pada anak bisa menjadi begitu berbahaya jika tidak diberikan penanganan yang tepat. Sehingga sebagai orangtua, perlu hendaknya mengenali penyakit ini lebih lanjut. Desember 2017 penyakit difteri sempat heboh dan mengancam kesehatan masyarakat. Bahkan Menteri Kesehatan menyebut difteri pada anak dan dewasa merupakan penyakit yang mematikan.

Difteri adalah penyakit menular yang disebarkan melalui batuk ataupun bersin. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium Diptheriae yang banyak bersarang di hidung dan tenggorokan. Lalu jika sudah bersarang, bakteri ini bisa menyebabkan terbentuknya selaput putih yang tebal. Sehingga lama kelamaan selaput putih tersebut menutup saluran pernapasan.

Baca Juga:

Selain itu, bakteri Corynebacterium Diptheriae ini juga mengeluarkan racun yang bisa membuat otot jantung dan saraf menjadi lumpuh. Oleh sebab itulah penyakit difteri ini disebut penyakit yang mematikan, terutama pada anak atau bayi yang memiliki sistem imun yang belum bekerja dengan maksimal. Sehingga membuat mereka lebih rentan terserang penyakit ini.

Bakteri Corynebacterium Diptheriae ini bisa menyerang tubuh seseorang terutama disebabkan karena belum pernah mendapatkan imunisasi DPT. Karena imunisasi ini merupakan imunisasi satu-satunya yang bisa membuat penyakit difteri pada anak bisa dihindari.

Penting bagi orangtua untuk memberikan imunisasi lengkap sejak dini bagi si buah hati karena penting untuk menjaga kesehatan dan kekebalan tubuhnya.

Faktor Pemicu Difteri

gejala difteri

Sebenarnya selain tidak mendapatkan vaksinasi, ada faktor lain yang memicu penyakit difteri pada anak. Berikut penjelasannya:

  • Lokasi dan kebersihan lingkungan tempat kamu tinggal. Rumah dan lingkungan yang bersih meminimalisir penyebaran bakteri maupun virus.
  • Punya gangguan sistem imun seperti terkena AIDS, misalnya.
  • Sistem imun lemah yang sering terjadi pada anak-anak dan orang tua. Lemahnya tingkat kekebalan tubuh terhadap bakteri tertentu bisa menjadi faktor seseorang terkena penyakit difteri.
  • Tinggal di lokasi yang padat penduduk dan tidak bersih. Banyaknya penduduk di kawasan tempat tinggal kamu akan berpengaruh juga pada menularnya penyakit difteri ini. Diketahui bahwa difteri merupakan penyakit menular. Jika ada penderita difteri di sekitar kamu dan tidak diobati, itu bisa berpotensi menyebarkan bakteri difteri pada kamu dan orang-orang di sekitar.

Gejala Penyakit Difteri Pada Anak

penyakit difteri

Gejalan penyakit difteri ini yang paling terlihat jelas adalah akan muncul di bagian mulut atau tenggorokan. Karena memang penyakit ini menyerang saluran pernapasan. Gejala yang bisa terlihat adalah adanya selaput tebal putih atau keabu-abuan di tenggorokan, radang tenggorokan, suara serak, dan membengkaknya kelenjar leher.

Penderita juga akan susah saat menelan, hidung berlendir, batuk, dan tubuh demam serta menggigil. Tak jarang gejala penyakit difteri juga terjadi gangguan penglihatan, berbicara tidak fokus dan perasaan tidak nyaman. Masih ada lagi, tanda lainnya jantung menjadi berdebar, kulit pucat dan berkeringat.

Jika melihat tanda-tanda tersebut terjadi pada si anak, pastikan untuk segera membawanya ke dokter. Mendapatkan penanganan medis merupakan langkah utama dan penting sebelum timbul komplikasi yang bisa berujung pada kekurangan oksigen dan terganggunya fungsi jantung.

Komplikasi Penyakit Difteri Pada Anak

Difteri Pada Anak

Seperti yang diketahui, difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Kamu bisa mengenalinya dari komplikasi yang terjadi seperti:

  • Tertutupnya saluran pernapasan
  • Rusaknya otot jantung (miokarditis)
  • Kerusakan saraf (polineuropati)
  • Hilangnya kemampuan bergerak (lumpuh)
  • Gagal napas (pneumonia).

Sebenarnya difteri pada pendertia tertentu bisa menyebabkan kematian meskipun sudah diobati. 1 dari 10 penderita difteri meninggal meskipun sudah mendapatkan perawatan medis, tetapi jika tidak diobati angka kematiannya meningkat jadi 1:2. Sehingga penting untuk mengobati penyakit ini sejak dini.

Pengobatan Difteri Pada Anak

Difteri Pada Anak

Untuk mengetahui apakah seseorang tersebut terkena penyakit difteri atau tidak, dokter perlu melakukan diagnosa terlebih dahulu. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik apakahh terjadi pembengkakan di kelenjar limfa. Lalu dokter juga akan mengecek tenggorokan pasien apakah ada lapisan abu-abu dan amandel. Dokter juga akan menanyakan sejarah medis pasien. Barulah dokter bisa menduga apakah anak kamu terkena penyakit difteri.

Ada metode aman untuk mendiagnosa difter yaitu dengan metode biopsi yang perlu melakukan uji laboratorium terlebih dahulu. Sampel jaringan yang terpengaruh diambil dan dibawa ke lab untuk diperiksa memastikan apakah terkena difteri atau tidak.

Si kecil yang terkena penyakit difteri akan menjalani pengobatan rawat inap. Dalam proses pengobatan tersebut, penderita diberi antibiotik untuk melumpuhkan bakteri yang menyebabkan penyakit difteri tersebut.

Dokter akan memberikan pengobatan pada penderita diteri berdasarkan usia, gejala, serta kondisi kesehatannya. Secara umum, obat yang diberikan pada penderita penyakit ini ada dua macam, yaitu:

1. Antitoksin

Antitoksin akan disuntik masus ke pembuluh darah untuk menetralkan racun yang sudah menyebar di seluruh tubuh. Penderita akan mendapatkan pengecekan terhadap alergi terlebih dahulu untuk memastikan antitoksin tidak menyebabkan alergi pada penderita.

2. Antibiotik

Antibiotik seperti penisilin atau eritromisin bisa mengobati difteri sebab bisa membunuh bakteri dan membersihkan infeksi dalam tubuh.

Berbeda jika penyakit difteri pada anak sudah parah dengan fungsi jantung dan sarafnya dikhawatirkan rusak, maka si kecil akan masuk ruang isolasi untuk perawatan intensif selama dua minggu.

Tahap isolasi merupakan tahap yang sudah berbahaya. Di tahap ini semua orang terdekat penderita akan ikut diperiksa untuk mengetahui kesehatannya. Lalu kemudian diberikan imunisasi, terutama mereka yang sering melakukan kontak dengan penderita. Dan imunisasi difteri ini sebenarnya perlu dilakukan sekali dalam 10 tahun dan kontinyu diulang.

Pengobatan Penyakit Difteri di Rumah

Difteri Pada Anak

Apakah penyakit difteri bisa diobati di rumah? Jawabannya bisa! Jika terkena difteri, kamu perlu melakukan:

  • Banyak istirahat di tempat tidur (bed rest). Usahakan untuk membatasi aktivitas fisik terutama jika jantung kamu terpengaruh. Isirahat di tempat tidur perlu dilakukan dalam waktu yang cukup lama atau beberapa minggu hingga kamu pulih secara total.
  • Kamu perlu mengisolasi diri agar menghindari penyebaran penyakit pada orang lain agar tidak menular.

Langkah Pencegahan Difteri Pada Anak

Bakteri difteri hanya bisa dicegah dengan vaksin DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis). Jadi imunisasi ini tidak boleh dilewatkan pada anak. Biasanya vaksin ini diberikan lima kali pada anak usia 2 bulan. Waktunya sama, dimulai dari usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4-6 tahun. Anak yang usianya 7 tahun akan diberikan vaksin Td atau Tdap yang melindungi tubuh dari tetanus, difteri, dan pertusis yang harus diulang lagi setiap 10 tahun sekali.

Perlu diingat bahwa difteri tidak hanya menjangkiti anak-anak tetapi juga orang dewasa. Biasanya mereka yang tidak mendapatkan vaksin sama sekali di waktu kecil akan lebih rentan untuk terkena difteri.

Vaksin hanya bertahan 10 tahun saja. Lalu pemberian vaksin diulang lagi setiap sekali dalam 10 tahun. Vaksin difteri ini memang kadang memberikan efek samping, tapi tidak terlalu berat. Seperti terjadi kemerahan, demam ringan, dan nyeri di tempat suntikan bahkan ada yang mengalami alergi.

Penyakit difteri pada anak atau orang dewasa akan terus terjadi selama mereka tidak mendapatkan imunisasi untuk kekebalan tubuhnya.

Selain vaksin, pencegahan difteri juga bisa dilakukan menjaga lingkungan di dalam rumah tetap bersih. Rumah yang bersih akan terhindar dari perkembangbiasakan bakteri, kuman, atau virus. Jika pun masih terdapat bakteri, setidaknya lebih bisa diminimalisir.

Related posts
KehamilanKesehatan

10 Obat Sakit Gigi yang Aman Bagi Ibu Hamil

Kesehatan

9 Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan

KesehatanKulit

Penyebab Keloid dan Cara Alami Mengatasinya

Kesehatan

6 Mitos Kanker Paru-Paru yang Perlu Kamu Tahu