KesehatanWanita

Memahami Fase Siklus Menstruasi

Fase Siklus Menstruasi

Menstruasi menjadi salah satu tanda seorang perempuan sudah memasuki masa pubertas. Meski dialami sejak masih remaja, ternyata tidak semua perempuan tahu mengenai sklus menstruasi.

Baca Juga:

Siklus menstruasi merupakan perubahan pada bagian organ reproduksi. Siklus menstruasi ini berbeda-beda pada tiap-tiap wanita, yang biasanya siklus menstruasi itu adalah 28 hari. Tetapi bisa juga lewat, biasanya antara 23-35 hari.

Fase Siklus Menstruasi

Fase Siklus Menstruasi

1. Fase pertama, Menstruasi

Fase pertama ini biasanya berlangsung 3-7 hari dimana pada fase ini lapisan dinding rahim luruh menjadi darah haid. Setiap siklusnya, darah haid yang keluar selama masa menstruasi adalah sekitar 30-40 ml. Hari pertama hingga ketiga, biasanya darah menstruasi yang keluar lebih banyak. Nyeri dan kram pada panggul dan bagian tubuh lainnya juga masih kuat terasa.

Adanya kontraksi rahim membuat nyeri pada perut di masa awal menstruasi sangat luar biasa. kontraksi ini membuat suplai oksigen tidak lancar sehingga menimbulkan rasa nyeri. Tetapi, kontraksi selama menstruasi itu ada fungsinya lho. Yaitu untuk mendorong serta mengeluarkan lapisan dinding rahim yang keluar menjadi darah haid.

Pada fase pertama ini, hormon estrogen kamu berada pada tingkatan terendah sehingga membuat wanita pada periode haid ini jadi lebih emosional dan mudah marah dan tersinggung.

2. Fase kedua, pra ovulasi dan ovulais

Apa itu fase pra ovulasi? Yaitu fase dimana dinding rahim kembali menebal setelah luruh saat menstruasi. Penebalan rahim ini dipicu oleh adanya peningkatan hormon. Jika dulu kamu berpikir bahwa masa subur wanita terjadi di hari ke-14 setelah siklus pertama, ternyata masa ovulasi pada tiap wanita itu berbeda-beda.

Tergantung pada siklus menstruasi masing-masing dan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti stres, sakit, olahraga, diet, dan penurunan berat badan.

Ovulsi merupakan rangkaian proses dari mulai produksi sel telur hingga matang, kemudian dilepaskan menuju salauran tuba falopi. Saat berhubungan seksual, di saluran inilah sperma dan sel telur bertemu lalu kemudian terjadiah pembuahan.

Untuk satu sel telur, ovulasi terjadi maksimal hanya 48 jam saja. Ovarium seorang wanita ternyata bisa memproduksi 15-20 sel telur dalam satu kali siklus. Pematangan masing-masing sel berbeda, sehingga masa ovulasi ini bisa mencapai enam hari bahkan lebih.

Pada fase inilah sangat pas bagi kamu pasangan suami istri yang ingin memiliki anak, untuk melakukan hubungan intim di fase kedua ini, masa praovulasi hingga ovulasi. Pada masa ini dinding rahim masih tipis sehingga sperma yang masuk bisa melewati lapisan ini.

Pembuahan juga lebih mudah terjadi mada fase ini karena sperma bisa bertahan dalam waktu 3-5 hari di dalam rahim. Sehingga kemungkinan terjadinya pembuahan tinggi.

3. Fase ketiga, pra menstruasi

Pada fase ketiga ini, dinding rhim sudah semakin menebal karena folikel telah pecah dan mengeluarkan sel telur, kemudian membentuk korpus luteum. Korpus inilah yng berfungsi untuk memproduksi progesteron sehingga rahim dinding semakin menebal.

Korpus luteum juga akan berhenti memproduksi progesteron karena mengalami degenrasi. Sehingga ketika tidak terjadi pembuahan, makan dinding rahim akan luruh menjaid darah menstruasi karena kadar progestron dna estrogen menurun.

Fase ini, kamu akan mengalami gejala seperti nyeri payudara, pusing, kembung, dan cepat lelah.

Cara Menghitung Siklus Menstruasi

Fase Siklus Menstruasi

Agar tidak salah, ada cara menghitung siklus menstruasi yang benar. Yakni dengan menghitung mulai dari hari pertama menstruasi keluar bulan tersebut. Munculnya flek dan bercak darh tidak dihitung ya, karena hitungan dimulai ketika keluarnya darah pertama.

Misalnya, hari pertama menstruasi bulan ini jatuh pada tanggal 4 Mei, langsung beri tanda pada kalender. Lalu tunggu hingga menstruasi berakhir. Pada bulan selanjutnya, tandai lagi kapan kamu menstruasi hari pertama, misalnya tanggal 1 Juni, ini merupakan awal siklus haid kamu yang baru.

Hitunglah jarak antara menstruasi bulan Mei (tanggal 4) hingga satu hari sebelum menstruasi bulan Juni (tanggal 1). Maka jarak hari itulah yang menunjukkan siklus haid normal kamu, yaitu 28 hari sekali.

Berbeda dengan kamu yang memiliki siklus menstruasi tidak teratur, seperti misalnya haid setiap 30 hari sekali atau 35 hari sekali. setiap bulannya tidak teratur, bisa cepat bisa lama. Cara menghitungnya juga sama, kuncinya tetap menghitung rentang awal menstruasi hari pertama bulan ini hingga satu hari sebelum menstruasi bulan selanjutnya.

Hanya saja, jika siklu haid tidak teratur, kamu bisa mencatat minimal 6 bulan berturut-turut, lalu bagi rata-ratanya. Hasil itulah yang menjadi patokan siklus menstruasi normal.

Siklus Haid Tidak Normal

Fase Siklus Menstruasi

Siklus haid normal mungkin sudah kamu ketahui. Tetapi jika siklus haid tidak normal, maka ada beberapa hal yang perlu dikhawatirkan.

1. Siklus haid

Rata-rata siklus normal menstruasi itu berkisar antara 23-35 hari. Lebih dari itu maka kemungkinan darah yang keluar bukan darah menstruasi. Kamu perlu periksakan ke dokter.

2. Lama durasi haid

Haid yang normal biasanya berlangsung sekitar tujuh hari. Jika lebih dari itu, maka kamu perlu waspada karena bisa jadi kamu mengidap menorrhagia, yaitu volume darah menstruasi yang meningkat.

3. Gumpalan darah

Darah yang menggumpal saat menstruasi adalah hal yang normal. Tetapi jika gumpalan darah tersebut dalam jumlah yang besar, kamu bisa saja terkena heavy period.

4. Nyeri yang berlebihan

Ketika memasuki masa menstruasi dan kamu merasakan nyeri yang berlebihan dan mengganggu aktivitas harian merupakan gejala yang tidak normal. Bisa jadi kamu terkena dysmenorrhea yaitu kondisi sakit yang berlebihan ketika haid. Gejalanya adalah sakit di punggung bawah dan kaki, serta sakit di area tulang panggul serta perut terasa kram.

5. Tidak haid selama 3 bulan

Jika kamu sudah menikah, telat haid selama 3 bulan merupakan sebuah kabar gembira karena kamu kemungkinan sedang hamil. Tetapi telat hamil bagi wanita perawan atau yang sudah menikah juga bisa menjadi tanda kamu sedang mengalami penyakit amenorrhea, perimenopause, atau bahkan menopause.

Amenorrhea adalah gangguan yang bisa terjadi karena stres, penyakit, olahraga yang terlalu berat, hingga berat badan yang turun secara drastis.

Related posts
Bayi & Anak-AnakKesehatan

Gejala & Cara Mengobati Amandel Pada Anak

Kesehatan

Kenali Ciri-Ciri Burnout dan Cara Mengatasinya

Kesehatan

WHO Tetapkan COVID-19 Sebagai Nama Resmi Virus Corona dari Wuhan

Kesehatan

Jangan Disepelekan, Kesemutan Bisa Jadi Pertanda Penyakit Ini!