Bayi & Anak-AnakKesehatan

6 Penyakit Musim Hujan yang Sering Menyerang Anak

Musim hujan menjadi salah satu musim yang diwaspadai bagi para orang tua. Sebab, banyak penyakit musim hujan yang kerap menyerang anak. Hal ini dikarenakan beberapa virus penyakit berkembang lebih cepat pada suhu yang lebih rendah. Faktanya, cuaca yang lembap saat musim hujan merupakan masa terbaik untuk beberapa jenis mikroba berkembang biak. Selain itu, musim hujan menyebabkan sistem kekebalan tubuh anak menurun. 

Baca Juga:

Walaupun penyakit ini biasanya terjadi pada musim hujan, orang tua jangan menyepelekan penanganannya. Meskipun bersifat sementara, jika tidak ditangani dengan tepat bisa berakibat fatal. Berikut 6 penyakit musim hujan yang sering menyerang anak:

1. Diare

Penyakit Musim Hujan pada anak

Diare merupakan penyakit di mana seseorang terus-terusan buang air besar dan ditandai dengan bentuk tinja yang cair. Studi penelitian mengungkapkan hujan dapat meningkatkan penyebaran penyakit diare. Sebab, bakteri diare (rotavirus) berkembang lebih cepat pada musim hujan dan kerap menyerang bayi dan anak kecil. Adapun gejala diare antara lain anak mengalami demam, kehilangan selera makan, mual, muntah, turunnya berat badan, dan dehidrasi. 

Cara menangani diare:

Walaupun virus diare hilang dengan sendirinya, orang tua tetap harus memberikan penanganan yang tepat sepeti memberikan antibiotik dengan resep dokter. Jika anak diare tanpa diserta muntah atau dehidrasi, berikan makanan dan minuman atau tetap menyusui seperti biasa. Orang tua juga bisa memberikan porsi makanan yang lebih sedikit sampai diare sembuh. 

Jika anak menunjukan tanda dehidrasi ringan, segera bawa ke dokter dan berikan oral rehydration solutions (ORS). Sebab, mengganti cairan tubuh bukan hanya dengan memberikan air minum yang cukup. Anak juga perlu mendapatkan natrium, kalium, dan mineral. 

Cara mencegah diare:

Jika musim hujan sudah tiba, orang tua bisa melakukan pencegahan terjangkitnya diare seperti memastikan anak telah mencuci tangan dengan benar setelah bermain atau terkena air hujan. Kemudian pastikan kondisi kamar mandi dan wastafel bersih. Cuci juga buah dan sayuran sebelum dikonsumsi serta bersihkan peralatan memasak sebelum digunakan. 

2. Flu

Penyakit Musim Hujan pada anak

Faktanya, cuaca seperti musim hujan bukanlah hal utama yang menyebabkan anak terkena flu. Namun virus yang menyebabkan flu seperti pilek dapat menyebar lebih mudah pada suhu yang lebih rendah. Bahkan paparan udara dingin juga bisa membuat sistem kekebalan tubuh menurun.  Pada suhu di bawah 37° C, virus yang menyebabkan flu atau rhinovirus untuk bereplikasi lebih efisien. Infeksi rhinovirus biasanya menghasilkan gejala seperti pilek ringan. Namun, rhinovirus juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, seperti bronkitis dan pneumonia pada anak dengan sistem kekebalan yang melemah.

Biasanya penyakit musim hujan ini menyebar melalui  kontak langsung orang-ke-orang dan udara. Setelah terhirup, rhinovirus menempel pada sel-sel di dalam saluran hidung. Kemudian mulai mereplikasi dan menyebarkan lebih banyak partikel virus ke seluruh saluran pernapasan bagian atas. Sementara itu, virus influenza yang menyebabkan flu juga dapat bertahan dan menyebar lebih mudah di udara dingin. Seseorang bisa terjangkit flu karena kekurangan vitamin D yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Sebab, selama musim hujan, banyak orang yang mendapatkan lebih sedikit vitamin D karena jarang terkena paparan sinar matahari.

Cara mencegah flu:

Untuk mencegah terjadinya flu, konsumsi suplemen vitamin D atau makanan yang tinggi vitamin D, seperti ikan berlemak, jamur, dan telur. Lalu tidur yang cukup, pastikan tubuh tetap terhidrasi, cuci tangan secara teratur, serta tidak berbagi makanan dan minuman dengan orang yang terkena flu. 

3. Tifus

Gejala dan Tanda Bintitan   Benjolan merah di kelopak mata atas atau bawah yang mirip dengan bisul atau jerawat

Pada umumnya, tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh rickettsia dan orientiabacteria. Namun tungau, kutu, dan  kutu yang terinfeksi juga bisa menyebabkan seseorang terkena tifus. Misalnya tifus scrub disebarkan tungau yang bisanya ditemukan di Asia Tenggara, Cina, Jepang, India, dan Australia Utara. Seseorang bisa terkena tifus jika tungau yang terinfeksi bakteri menggigit meskipun orang yang terkena tidak menggaruk gigitannya. 

Gejala tifus:

Waspadai jika anak telah menunjukan gejala tifus. Adapun gejala penyakit musim hujan ini adalah mulai merasa sakit sekitar 10 hari hingga 2 minggu setelah bakteri tifus masuk ke tubuh. Pada awalnya, anak akan merasa kedinginan, demam, dan sakit kepala parah. Bahkan anak mungkin mulai bernapas cepat dan otot seluruh tubuh menjadi sakit disertai nyeri perut dan muntah. Beberapa hari kemudian, terlihat ruam bercak di dada dan bagian tengah tubuh yang kerap menyebar ke bagian lain.

Cara mencegah dan menangani tifus:

Jika sudah menunjukkan gejala di atas, bawa anak ke rumah sakit untuk melakukan tes darah dan perawatan dengan antibiotik. Sementara untuk mencegah virus tifus, jagalah kebersihan diri seperti mandi dan mengganti pakaian secara teratur. Jangan meninggalkan sisa makanan atau sampah secara terbuka di sekeliling karena bisa mengundang tikus, salah satu binatang yang bisa membawa virus tifus. Jika memelihara hewan di rumah, semprotkan produk pencegah kutu dan jangan biarkan hewan peliharaan berbagi tempat tidur. 

4. Leptospirosis

Gejala dan Tanda Bintitan   Benjolan merah di kelopak mata atas atau bawah yang mirip dengan bisul atau jerawat

Leptospirosis merupakan infeksi bakteri langka sering disebabkan oleh hewan. Infeksi ini menyebar melalui urin, terutama dari anjing, tikus, dan hewan ternak. Hewan tersebut bisa saja tidak memiliki gejala apa pun, tetapi menjadi pembawa penyakit musim hujan ini. Seseorang yang berada di tempat terinfeksi urin hewan bisa terkena leptosipirosis. 

Saat musim hujan, penyebaran penyakit ini lebih cepat karena kuman dari urin hewan terbawa air hujan. Penyakit ini lebih rentan menyerang pada orang yang tinggal di daerah banjir. Kuman akan menyerang melalui celah kulit seperti goresan, luka terbuka, ataupun kulit kering serta melalui hidung, mulut, dan alat vital. 

Gejala dan cara menangani leptospirosis:

Tanda-tanda leptospirosis biasanya terlihat dalam 2 minggu. Adapun gejalanya adalah suhu tubuh panas, sakit kepala, sakit otot, kulit dan mata menguning, muntah, diare, serta terjadi ruam pada kulit. Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik, termasuk penisilin dan doksisiklin. Namun tetap periksakan ke rumah sakit karena infeksi bisa menjadi tambah parah karena penanganan yang kurang tepat. Demi mencegah terjangkit leptospirosis, hindari air yang terkontaminasi kotoran seperti memastikan air yang diminum bersih. Sebaiknya hindari juga berenang atau memancing di area air tawar. 

5. Tetanus

Gejala dan Tanda Bintitan   Benjolan merah di kelopak mata atas atau bawah yang mirip dengan bisul atau jerawat

Tetanus merupakan infeksi bakteri membahayakan yang mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan otot di seluruh tubuh mengencang. Di dunia internasional, penyakit musim hujan ini  disebut lockjaw karena infeksi sering menyebabkan kontraksi otot pada rahang dan leher yang pada akhirnya dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Pada musim hujan, bakteri tetanus bisa menyebar melalui air banjir.

Bakteri clostridium tetani penyebab tetanus dapat ditemukan dalam debu dan kotoran binatang. Seseorang dapat terinfeksi ketika spora memasuki aliran darah melalui luka Bakteri spora kemudian menyebar ke sistem saraf pusat dan menghasilkan racun yang disebut tetanospasmin. Racun ini adalah racun yang menghalangi sinyal saraf dari sumsum tulang belakang ke otot sehingga dapat menyebabkan kejang otot yang parah.

Gejala dan cara menangani tetanus:

Tetanus mempengaruhi saraf yang mengontrol otot-otot sehingga menyebabkan kesulitan menelan. Seseorang yang terjangkit tetanus pada umumnya mengalami kejang dan kekakuan di berbagai otot, terutama di rahang, perut, dada, punggung, dan leher. Adapun gejala tetanus lainnya adalah  detak jantung menjadi cepat, demam, berkeringat, dan tekanan darah tinggi.

Cara menangani tetanus tergantung pada keparahan gejala. Tetanus biasanya diobati dengan berbagai terapi dan obat-obatan, seperti antibiotik penisilin untuk membunuh bakteri dalam sistem TUBUH, tetanus imun globulin (TIG) untuk menetralisir racun yang telah diciptakan bakteri dalam tubuh, pelemas otot untuk mengontrol kejang otot, vaksin tetanus yang diberikan bersamaan dengan perawatan, serta membersihkan luka untuk menghilangkan sumber bakteri. 

6. Kolera

Gejala dan Tanda Bintitan Benjolan merah di kelopak mata atas atau bawah yang mirip dengan bisul atau jerawat

Penyakit ini biasanya menyebar melalui air yang terkontaminasi, seperti area yang mengalami banjir saat hujan besar. Sebagian besar kasus kolera ditandai dengan terjadinya diare ringan atau sedang yang seringkali sulit dibedakan dengan diare yang disebabkan oleh masalah lain. Kebanyakan orang yang terpapar bakteri kolera (vibrio cholerae) tidak merasa  sakit dan tidak pernah tahu bahwa mereka telah terinfeksi. Namun karena orang terjangkit menumpahkan bakteri kolera dalam tinja selama 7 hingga 14 hari, mereka masih dapat menginfeksi orang lain melalui air yang terkontaminasi. 

Gejala kolera:

Kolera ditandai dengan terjadinya diare yang tiba-tiba. Biasanya diare karena kolera berwarna pucat, seperti susu. Gejala lainnya adalah mual dan muntah yang terjadi terutama pada tahap awal kolera, muntah dapat berlangsung berjam-jam pada suatu waktu. Orang yang terjangkit penyakit musim hujan ini juga mengalami dehidrasi. Adapun gejala kolera lannya antara lain mata cekung, mulut kering, haus ekstrem, kulit kering, tekanan darah rendah, dan detak jantung tidak teratur. 

Cara menangani dan mencegah kolera

Jika anak mengalami diare parah, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan. Sementara orang tua bisa memastikan anak terus terhidrasi. Jika musim hujan tiba dan daerah rumah merupakan daerah rawan banjir, pastikan anak telah mencuci tangan dengan sabun dengan tepat. Lalu minum air kemasan atau air bersih yang telah direbus. Selain itu, pastikan menggunakan air kemasan saat hendak menggosok gigi. 

Musim hujan sudah tiba, yuk jaga kesehatan anak agar tidak terjangkit penyakit musim hujan seperti di atas!

Related posts
Bayi & Anak-AnakIbu & BayiKesehatan

7 Teether Alami untuk Bayi yang Tumbuh Gigi

Kesehatan

Perbedaan Cardiac Arrest dan Serangan Jantung yang Harus Kamu Tahu

Kesehatan

Ini 10 Tanda Jika Kamu Butuh Me Time

Kesehatan

Ini Kadar Kolesterol Normal untuk HDL, LDL, Total, dan Trigliserida