Penyakit A-Z

HIV dan AIDS; Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

HIV dan AIDS

Angka penderita HIV dan AIDS di Indonesia di tahun 2019 mencapai angka yang sangat tinggi. Hal ini mempersulit target penurunan penderita HIV/AIDS di tahun 2020 nanti. Dilihat dari data Kementerian Kesehatan RI yang dirilis bulan Agustus 2019, menunjukkan data total penderita HIV/AIDS mencapai 466.859 orang. Sejumlah 349.882 orang di antaranya menderita HIV, sementara sisanya sebanyak 116.977 orang menderita AIDS. 

Baca Juga:

Penyakit AIDS sendiri merupakan akronim dari Acquired immunodeficiency syndrome tergolong penyakit kronis yang berpotensi kematian. Penyakit ini disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). HIV bisa merusak sistem imunitas tubuh, dan mengganggu kemampuan tubuh dalam melawan organisme penyebab penyakit.

Virus HIV bisa bertahan di tubuh seseorang dan berangsur-angsur memperlemah imun tubuh, pada akhirnya HIV bisa berkembang menjadi AIDS. Virus HIV bisa tersebar lewat kontak dengan darah penderita, dari ASI ibu menyusui yang terinfeksi, dari ibu hamil ke janin. 

Mengenal HIV/AIDS

HIV dan AIDS

Virus HIV menurunkan sistem kekebalan tubuh. Virus ini jika dibiarkan dan tidak diobati, akan berkembang menjadi AIDS. Sekalinya virus HIV berada pada tubuh seseorang, virus tersebut akan terus menetap seumur hidup. 

HIV menyerang sistem kekebalan tubuh yakni di bagian sel-sel limfosit T CD4 yang membantu melawan infeksi. Semakin lama HIV dibiarkan dan tidak diobati, HIV akan terus menyerang jumlah sel-sel T CD4. Sel-sel yang berperan penting menjaga daya tahan tubuh ini lambat laun akan berkurang.

Akibatnya tubuh seseorang akan mudah terserang infeksi. Kondisi ini akan terus berlangsung hingga penderita mengalami infeksi, kanker, dan penyakit lain akibat menurunnya kekebalan tubuh.

Saat ini HIV hanya bisa diatasi dengan perawatan medis dan pengontrolan terhadap perkembangan virus-virus HIV. Pengobatan HIV di Indonesia dapat diakses oleh ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yakni terapi antiretroviral atau obat ARV.

Gejala HIV dan AIDS

HIV dan AIDS

Gejala-gejala HIV dan AIDS terbagi dalam tiga tahapan, yakni tahap awal, tahap kedua, dan tahap terakhir (fase terjadinya AIDS). Berikut ini gejala-gejala dalam setiap tahapan:

1. Tahap Awal ( Acute HIV Infection)

Tahap awal penularan virus HIV umumnya tidak disadari. Fase ini disebut sebagai fase sindrom retroviral akut atau infeksi HIV awal. Pada tahap ini gejala-gejala HIV biasanya muncul di antara minggu ke-2 hingga 6 setelah terpapar virus. Pada fase ini tubuh baru terinfeksi dan sistem imun mulai melawan virus. 

Gejala-gejala ini mirip dengan virus yang menyebabkan penyakit lain. Bahkan gejalanya juga sama seperti flu, seperti:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Pembengkakkan kelenjar getah bening
  • Nyeri otot
  • Ruam kemerahan yang tidak gatal, umumnya muncul di daerah torso.

Jika kamu memiliki tanda-tanda di atas dan pernah melakukan kontak dengan penderita HIV dalam 2-6 minggu terakhir, kamu bisa segera cek ke dokter untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

2. Tahapan Kedua: Gejala-gejala Laten Klinis 

Setelah sistem imunitas tubuh kalah melawan HIV, gejala-gejala mirip flu akan segera hilang. Namun pada fase ini yang terjadi adalah infeksi HIV kronis atau fase asimtomatik.

Sel-sel limfosit CD4 di dalam tubuh berkoordinasi dengan respon sistem imun. Selama tahap ini, virus HIV yang tidak ditangani akan membunuh sel-sel sehat dan membuat sistem imunitas tubuh melemah. 

Dokter akan melakukan tes darah untuk melihat berapa banyak sel-sel CD4 T yang bertahan. Untuk itu diperlukan pengobatan khusus secara rutin agar virus HIV tidak menghancurkan seluruh sel sehat dengan cepat.

3. Tahap Ketiga: Fase Berkembangnya HIV menjadi AIDS

AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi. Kondisi ini terjadi jika sel T CD4 berkurang drastis hingga tersisa sekitar 200 sel. Pada fase ini sistem imun melemah dengan cepat dan besar kemungkinan penderita terinfeksi penyakit berbahaya. Contohnya, Kaposi’s sarcoma (kanker hidung) and pneumocystis pneumonia (penyakit paru-paru), penyakit-penyakit ini sering muncul pada penderita di fase ketiga ini. 

Beberapa gejala-gejala tahap ketiga HIV dan AIDS

  • Lelah sepanjang waktu. 
  • Keringat dingin.
  • Sulit menelan atau sakit saat menelan.
  • Nafas pendek.
  • Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari. 
  • Turunnya berat badan dengan tanpa alasan.
  • Bercak keunguan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) di leher.
  • Diare yang parah dan lama.
  • Infeksi jamur di tenggorokan, mulut, dan vagina. 

Diagnosis

HIV dan AIDS

Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi penyakit HIV dan AIDS ini adalah dengan cara pemeriksaan ke dokter. Pemeriksaan dilakukan menggunakan tes HIV. Beberapa macam tes HIV adalah:

  • Tes serologi
    • Tes cepat
    • Tes western blot
    • Tes ElA (enzyme-linked immunisorbent assay)
  • Tes virologis dengan polymerase chain reaction (PCR).
    • Tes HIV DNA kualitatif
    • Tes HIV RNA kuantitatif
  • Tes HIV antibody-antigen

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS, indikasi tes HIV ditujukan pada:

  • Dewasa, anak, dan remaja yang kemungkinan terinfeksi HIV. 
  • Ibu hamil dan ibu bersalin
  • Setiap pria dewasa yang disunat/sirkumsisi sebagai tindakan pencegahan HIV.

Sementara untuk bayi dan anak, tes HIV dilakukan pada kondisi berikut ini:

  • Anak menderita sakit dengan jenis penyakit yang berkaitan erat dengan HIV (TB berat atau mendapat OAT berulang, malnutrisi, atau pneumonia berulang dan diare kronis atau berulang). 
  • Bayi baru lahir dari ibu yang memiliki HIV/AIDS yang telah mendapatkan tindakan pencegahan penularan dari ibu ke anak.
  • Anak kandung dari ibu yang didiagnosis terinfeksi HIV (umur berapa pun, termasuk bayi). 
  • Status seorang anak setelah ada saudara kandungnya yang terdeteksi HIV, atau orang tua (satu maupun keduanya) yang meninggal oleh sebab yang tidak diketahui tetapi diduga mungkin akibat HIV. 
  • Berpotensi terkena HIV lewat jarum suntik yang terkontaminasi HIV, mendapat transfusi berulang, dan faktor lainnya.
  • Anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual.

Selain dari yang disebut di atas, tes juga ditawarkan pada Pasangan ODHA, ibu hamil di wilayah epidemi, semua yang datang ke fasilitas kesehatan di daerah epidemi HIV meluas, penderita tuberkulosis, IMS, dan Hepatitis, Warga Binaan Pemasyarakatan, dan Lelaki Beresiko Tinggi (LBT). 

Penyebab

HIV dan AIDS

Penyebab HIV adalah virus yang menyebar lewat  hubungan seksual atau darah. Selain itu HIV juga bisa diturunkan melalui ibu hamil pada janin yang dikandungnya atau ibu yang menyusui anaknya.

HIV membuat sel-sel T CD4 rusak dan berkurang pada sel darah putih yang bertugas memerangi organisme penyebab penyakit. Sehingga virus ini membuat sistem imunitas tubuh makin melemah. Proses berkembangnya HIV menjadi butuh waktu bertahun-tahun. Seseorang didiagnosis dengan AIDS apabila memiliki sel-sel T CD4 di bawah 200 atau memiliki komplikasi penyakit yang menunjukkan keterkaitan dengan AIDS.

Penularan HIV dan AIDS

HIV dan AIDS

Penularan infeksi HIV bisa dilakukan dengan beberapa cara. Penularan terjadi karena untuk menghalangi masuknya cairan yang terinfeksi (baik berupa darah, cairan semen, sekresi vagina) masuk ke dalam tubuh. Hal ini bisa terjadi dengan beberapa hal:

1. Hubungan seksual

Masuknya virus HIV terjadi jika salah satu pasangan menginfeksi pasangan lainnya lewat hubungan intim. Virus juga bisa masuk melalui luka di mulut atau luka kecil di organ kelamin.

2. Transfusi darah

Selain lewat hubungan seksual, virus HIV bisa menginfeksi lewat transfusi darah. Darah dari pendonor yang tidak steril karena mengandung virus HIV bisa membuat pihak yang membutuhkan darah terkena HIV. 

3. Penggunaan jarum yang bergantian/tidak steril

Pemakaian obat melalui jarum suntik juga berpotensi menyebabkan kontaminasi HIV atau hepatitis lewat intravena.

4. Kehamilan, persalinan, dan penyusuan.

Ibu yang terinfeksi bisa menyalurkan virus yang sama ke janin dan bayi. Untuk meminimalkan risiko ini, ibu perlu mendapat perawatan dan pengobatan untuk mengontrol HIV sehingga risiko penularan pada bayi lebih kecil. 

Cara Mengobati HIV/AIDS 

HIV dan AIDS

Saat ini belum ada pengobatan yang 100% berhasil menyembuhkan HIV dan AIDS. Namun, dengan perawatan medis yang berkualitas dan dilakukan rutin, HIV bisa dikontrol. 

Salah satu alternatif tindakan untuk mengatasi HIV dilakukan dengan pengobatan medis, yang disebut terapi antiviral atau ARV. Cara kerja terapi antiviral ini adalah pasien mengkonsumsi obat ARV sesuai resep. Nantinya jumlah virus HIV dalam darah akan menjadi tidak terdeteksi. Selama virus HIV tidak terdeteksi inilah, maka penderita HIV bisa bertahan hidup tanpa mengalami penurunan sel-sel pendukung imunitas dalam tubuh. 

Pengobatan ini juga didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui peraturan Menkes tentang pedoman pengobatan antiretroviral no. 87 tahun 2014.

Dilansir dari Permenkes, pengobatan ARV adalah bagian dari pengobatan HIV dan AIDS. Pengobatan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko penyebaran virus HIV, menghambat semakin buruknya infeksi oportunistik, memperbaiki mutu hidup ODHA, dan mengeliminasi kadar jumlah virus dalam darah hingga tidak terdeteksi.

Pengobatan ARV ini ditujukan untuk berbagai kalangan dan kelompok usia. Di antaranya adalah:

  • Pasien HIV dewasa dan anak mulai 5 tahun ke atas yang mengalami stadium klinis 3 atau 4
  • Ibu hamil dengan HIV
  • Bayi lahir dari ibu yang positif HIV
  • Pasien HIV bayi dan anak di bawah 5 tahun. 
  • Pasien HIV dengan tuberkulosis
  • Pasien HIV dengan hepatitis B dan C
  • Pasien HIV pada populasi kunci
  • Pasien HIV dengan pasangan negatif
  • Pasien HIV pada populasi umum yang tinggal di daerah wabah meluas HIV dan AIDS. 

Selain mengatasi berkembangnya HIV dengan pengobatan rutin, penting untuk disadari oleh ODHA bahwa penurunan jumlah virus lewat terapi ARV ini juga wajib diiringi dengan mencegah perilaku berisiko. Menggantungkan sepenuhnya penggunaan ARV tidak akan efektif

Jika ingin bertahan hidup lebih lama, pasien dan ODHA perlu menjalankan kepatuhan aturan pengobatan secara rutin. Tidak malas berobat karena alasan apapun, termasuk bosan, lupa minum obat, enggan karena malas, depresi, bepergian jauh, perubahan rutinitas, penggunaan alkohol, dll. Pasien juga harus berhenti menjalani aktivitas perilaku seks berisiko, NAPZA yang aman, serta melakukan pengobatan infeksi menular seksual (IMS) yang konsisten guna pencegahan penularan HIV (positive prevention). 

Pada saat ini pada saat ini HIV dan AIDS telah dianggap sebagai penyakit yang bisa dikontrol, bukan lagi dianggap sebagai penyakit yang menakutkan. Meski begitu kecenderungan angka ODHA yang semakin meningkat dari tahun ke tahun membuat siapa saja harus waspada dan menjalani gaya hidup sehat yang minim risiko penyakit ini.

Related posts
Penyakit A-Z

Penyakit Paru-Paru Obstruktif: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Stroke: Gejala, Penyebab, Pencegahan, dan Pengobatan

Penyakit A-Z

Sakit Kepala Belakang, Ketahui Penyebabnya!

Penyakit A-Z

Diabetes: Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati