Penyakit A-Z

Penyakit Difteri: Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

penyakit difteri

Salah satu penyakit yang cukup membahayakan tubuh adalah difteri. Tapi beberapa dari kamu mungkin belum tahu banyak soal difteri. Padahal seharusnya kamu mengenalnya agar bisa lebih waspada.

Baca Juga:

Bahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pernah melaporkan penyebaran difteri di beberapa daerah di Indonesia sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Untuk menghindari dan mengatasinya, yuk pahami terlebih dahulu informasi tentang difteri ini!

Apa Itu Difteri

penyakit difteri

Difteri adalah penyakit yang menjangkit tubuh manusia dengan infeksi menular dari bakteri Corynebacterium. Bakteri ini dapat menyebarkan racun yang berbahaya bagi tubuh. Salah satu cara untuk mengatasinya diperlukan vaksinasi. Tapi di Indonesia dan negara berkembang serupa, vaksinasi masih sangat rendah sehingga difteri banyak ditemui di sini.

Difteri dapat menyerang semua orang, berapa pun usianya. Bagian tubuh yang diserang adalah selaput lendir yang ada di tenggorokan dan hidung, selanjutnya mempengaruhi kulit dan organ tubuh lainnya.

Penyakit ini bahkan dapat mengancam jiwa karena jantung dan sistem saraf ikut mengalami gangguan. Atau karena adanya infeksi nasofaring yang menyebabkan kesulitan dalam pernapasan. Bicara soal pernapasan, udara merupakan salah satu media penularan bakteri penyebab difteri.

Faktor Pemicu dan Gejala Difteri

penyakit difteri

Penyakit ini merupakan penyakit yang mudah ditularkan tanpa disadari. Bakteri Corynebacterium dapat menyebar melalui udara atau benda-benda yang terkontaminasi. Kebersihan sangat diperlukan ketika bakteri ini menyebarkan koloninya.

Jika kita menghirup dan menyentuh media yang terkontaminasi, tubuh akan merespon kedatangannya dengan lemah. Untuk menghindari ini, kamu harus mengetahui faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko terjangkitnya difteri.

Tentu pertama dibutuhkan lokasi atau lingkungan yang higienis untuk ditinggali. Tubuh akan lebih mudah terkena penyakit apabila kamu memiliki sistem imun yang lemah atau terganggu seperti AIDS. Maka dari itu, vaksinasi juga menjadi hal yang penting dilakukan untuk memperkuat tubuh.  Faktor pemicu lainnya yang penting adalah kepadatan penduduk. Perlu diketahui, gejala difteri biasanya timbul 2-5 hari setelah terjangkit di tubuh, di antaranya:

  • Demam dan menggigil
  • Rasa tidak nyaman, lelah dan lemas
  • Batuk keras, suara sarak, dan nyeri tenggorokan
  • Pilek cair atau bercampur darah
  • Bicara melantur
  • Penglihatan terganggu
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Pernapasan terganggu dan terlalu cepat
  • Jantung berdebar cepat, pucat dan berkeringat dingin (tanda-tanda syok)
  • Lapisan tipis menutupi amandel dan tenggorokan berwarna abu-abu

Komplikasi Difteri

gejala difteri

Jika kamu sudah terjangkit penyakit difteri, kamu harus segera melakukan penanganan khusus. Tujuannya adalah menahan penyebaran sampai ke bagian tubuh lain. Jika tidak, bakteri akan mempengaruhi bagian tubuh lain dan menyebabkan komplikasi. Beberapa di antaranya yaitu:

1. Difteri Hipertoksik

Difteri hipertoksik adalah komplikasi dari penyakit difteri yang sangat parah. Komplikasi ini menyerang ginjal, yang mana akan memicu pendarahan luar biasa ketika gagal ginjal terjadi. Difteri hipertoksik ditandai dengan gejala difteri biasa. Ketika ini terjadi, segera konsultasikan dengan dokter agar dapat menghindari komplikasi.

2. Kerusakan Jantung

jantung adalah salah satu organ yang dapat diserang oleh bakteri penyebab difteri. Saat ini terjadi, miokarditis atau peradangan otot jantung yang selanjutnya timbul mengganggu kerja jantung. Alhasil, detak jantung menjadi tidak teratur. Yang paling berbahaya adalah kondisi gagal jantung dan seseorang dapat mengalami kematian mendadak.

3. Masalah pernapasan

Selain jantung, paru-paru juga mudah terserang bakteri Corynebacterium. Cara kerjanya yaitu membentuk membran berwarna abu di paru-paru. Benda ini akan menghambat pernapasan, serta memicu peradangan. Ketika penurunan fungsi organ semakin parah, bukan tidak mungkin penderitanya mengalami gagal napas.

4. Kerusakan Saraf

Penyakit difteri bekerja dengan menyebarkan toksin yang dapat menurunkan fungsi organ tubuh dari kondisi normalnya. Bakteri penyebabnya bahkan dapat mendorong terjadinya kerusakan saraf. Kamu bisa mengalami masalah pada saluran kemih, kesulitan saat menelan makanan, pembengkakan saraf tangan dan kaki, serta kelumpuhan pada diafragma atau paralis. Paralis diafragma sendiri dapat muncul di minggu-minggu awal gejala setelah infeksi sembuh.

Diagnosis Penyakit Difteri

penyakit difteri

Diagnosis difteri paling baik dilakukan oleh dokter. Pertama, dokter akan mewawancaraimu seputar medis. Kemudian melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat keberadaan lapisan tipis berwarna abu yang menutupi tenggorokan dan pembesaran kelenjar getah benih di leher.

Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti memeriksa sampel jaringan di laboratorium. Metode ini disebut biopsi, di mana akan diketahui apakah terdapat bakteri di dalam tubuhmu atau tidak.

Pengobatan Penyakit Difteri

penyakit difteri

Jika hasil diagnosis dokter menunjukkan positif terjangkit penyakit difteri, ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mengobatinya.

1. Bed Rest

Jika belum terlalu parah, kamu bisa merawat dirimu sendiri di rumah. Kamu harus paham kalau saat ini yang kamu butuhkan adalah istirahat di tempat tidur sebanyak-banyaknya atau biasa disebut bed rest. Waktunya mungkin bisa memakan waktu berminggu-minggu sampai kamu sembuh secara total. Hal ini dilakukan untuk menjaga jantung kelelahan dari aktivitas fisik yang berlebihan.

2. Isolasi Ketat

Baik kamu beristirahat di rumah atau di rumah sakit, kamu perlu menyadari jika kamu sedang memiliki penyakit yang menular. Bahkan penularannya bisa terjadi hanya melalui udara yang bergerak bebas di sekitarmu. Oleh karena itu, kamu harus mengisolasi diri dengan ketat untuk menghindari penyebaran difteri

3. Pengobatan di Rumah Sakit

Difteri umumnya masuk dalam kategori penyakit yang cukup serius. Dokter akan segera memberikan pertolongan yang terbaik untukmu. Jika diperlukan, kamu mungkin akan diminta untuk beristirahat di rumah sakit agar kondisi tubuh segera pulih dan mencegah risiko penyebarannya.

Selain itu, kamu juga akan diberikan suntikan antitoksin dan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Dosisnya akan disesuaikan dengan kondisi tubuh pasiennya masing-masing. Jika kamu memiliki alergi terhadap obat tertentu misalnya antitoksin, sebaiknya segera infokan itu ke doktermu ya. Tujuannya agar asupan tambahan yang diberikan dapat membantu tubuh bertahan terhadap bakteridifteri dengan baik.

Pencegahan Difteri

penyakit difteri

Pengobatan difteri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beristirahat dari segala aktivitas. Hal ini tentu akan merugikanmu, terutama jika kamu memiliki kegiatan rutin sehari-harinya. Cara paling tepat untuk menghadapi difteri adalah dengan mencegahnya. Karena difteri disebabkan oleh bakteri, pencegahannya dapat dilakukan dengan vaksinasi.

Imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis) adalah upaya pemberian vaksin difteri di Indonesia untuk kategori anak. Vaksinasi DPT ini perlu diberikan 5 kali secara bertahap. Yaitu umur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, serta 4-6 tahun. Di atas 7 tahun, vaksinasi yang diberikan adalah vaksinasi Td atau Tdap. Untuk perlindungan yang optimal terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, vaksinasi sebaiknya dilakukan setiap 10 tahun sekali sampai dewasa.

Related posts
Penyakit A-Z

12 Faktor Risiko Penyebab Kanker Payudara yang Bisa Dihindari

Penyakit A-Z

Penyakit ISPA di Tengah Polusi Udara

Penyakit A-Z

Penyakit Lupus: Pengertian, Gejala dan Penyebabnya

Penyakit A-Z

Sifilis: Pengertian dan Jenisnya